Rabu, 01 November 2017

Giussepe "Peppino" Prisco

Mantan Wakil Presiden Inter yang Meninggal Dunia pada Tahun 2001 lalu akibat Serangan Jantung dan Memilili Komentar yang sangat Pedas. Bahkan legenda Milan, Paolo Maldini, pernah mengatakan bahwa mengalahkan INTER di derby tanpa kehadiran Prisco terasa berbeda. Berikut beberapa ungkapan terkenal dari seorang Peppino Prisco :

"Lima menit sebelum mati, saya ingin menjadi Milanista. Jadi setidaknya salah satu dari mereka ada yang mati hari ini."

"Berapa hasil akhir Milan vs Juve? Saya tidak tertarik dengan hasil akhir pertarungan tim level rendah."

"Jika anak saya mengaku Milanista, saya akan melihat apakah matanya biru dan rambutnya hitam. Bila perlu kita cek darah."

"Jika anak saya tidak mendukung INTER, saya tidak akan mempercayai istri saya lagi."

"Saya menolak segala bentuk rasisme, tetapi anak perempuan saya tidak akan pernah menikah dengan seorang Milanista."

"Milan memecahkan rekor kemenangan beruntun? Saya tidak tahu. Yang saya ingat hanya catatan kekalahan mereka saja."

 "Ada 2 tim besar di Milano, yaitu INTER dan Primavera Inter."

"Setiap bersalaman dengan seorang Juventino, saya selalu menghitung ulang jumlah jari saya."

"Setelah bersalaman dengan seorang Milanista, saya selalu mencuci tangan saya."

"INTER dilahirkan dari perpecahan? Kisah ini bisa menjadi contoh bagaimana anda bisa sukses dari titik nol."

"Juve akrab dengan doping? Saat melihat Vialli seperti alien, Inzaghi dengan 18 golnya, dan mereka merajai eropa, saya tahu mulai ada yang tidak beres."

"Delle Alpi kosong? Anda bisa membeli pertandingan, tetapi anda tidak bisa membeli Fans Sejati."

"Gattuso masuk skuad azzurri? Hmmm, bahkan sebuah kota indah pun memiliki saluran pembuangan."

"Obat terbaik dari semua rasa sakit adalah menyaksikan Milan kalah 1-2 dari Cavese di Serie B pada tahun 1983."

"Prediksi Juve vs Milan? Saya harap keduanya kalah."

"Jika INTER gagal scudetto, saya akan mendukung tim Milano lain, yaitu S.S. Scarioni. Klub dimana saya bermain saat masih muda."

"Presiden ingin INTER menang 3-0 lawan Milan? Bagi saya 1-0 sudah cukup. Gol bunuh diri di menit akhir."

"Kenikmatan terbesar adalah melihat Milan ke Serie B. Bahkan bukan cuma sekali, tapi dua kali jatuh ke Serie B. Seperti kehilangan 5 scudetti."

"Setelah INTER menang 3-0 di Derby della Modonnina, pada sebuah meeting (yang dihadiri 300 orang), saya meminta semua berdiri dan kami mulai bernyanyi CHI NON SALTA ROSSONERO EH EH."

karena pernyataan-penyataan inilah  "Peppino" sangat di benci oleh Fans Milan / Milanisti dan Juventini di Italya.

Anakku "Hypatia Mumtazah"

“Anakku, kenapa engkau Ayah beri nama Hypatia Mumtazah? Itulah pertanyaan pembuka yang sepertinya akan mengawali obrolan panjang kami seperti biasanya. “Jika belum dengan senang hati aku akan bercerita tentangnya.
” Hypatia, nama ini memang jarang disebut. Mungkin ia tidak lebih dikenal dibandingkan Simone de Beauvoir, Maurice Merleu-Ponty, kedua filosof ternama Perancis, Alexandra Kollontai, filsuf Rusia terkemuka atau Rosa Luxemburg, Hannah Arendt dan sejumlah nama filsuf perempuan lainnya yang telah ramai dikaji dan diperbincangkan.

 Selain dikenal sebagai filsuf, Hypatia yang lahir sekitar tahun 370 dan meninggal pada 415 dianggap sebagai perempuan terkemuka pertama di bidang matematika. Selain mengajar matematika, ia juga mengajar filsafat dan astronomi di provinsi Mesir pada zaman Kekaisaran Romawi. Hypatia juga memiliki ketertarikan besar pada mekanika dan teknologi. Ia berhasil mendesain sebuah alat yang disebut Plane Astrolabe, yang berfungsi untuk mengukur posisi bintang, planet dan matahari.

Nama Hypatia bermakna ”tertinggi” sesuai dengan kecerdasan dan ketekunannya mencapai pengetahuan yang tertinggi hingga teorinya tentang peredaran planet-planet yang berpusat pada matahari, kemudian hari bahkan hingga saat ini terbukti sebagai yang benar. Pada zamannya, pemikiran Hypatia bertentangan dengan pemikiran Aristoteles dan Claudius Ptolomeus yang mengatakan dalam teorinya bahwa bumi adalah pusat tata surya sehingga seluruh planet dan matahari mengelilingi bumi. Teori Hypatia bertentangan pula dengan pandangan dan keyakinan tokoh tokoh agama kristen yang memiliki pandangan sama dengan Aristoteles dan Ptolomeus.

Perbedaan pandangan inilah yang menjadi awal terjadinya kecaman demi kecaman yang berujung pada kematian Hypatia yang dilakukan oleh penganut kristen fanatik dan radikal yang dimobilisasi pemimpin kristen bernama Peter. Dalam sejarah, peristiwa semacam ini kemudian berulang sebagaimana dialami Galileo yang ditangkap dan dihukum pada tahun 1663. Pada saat itu Galileo mengajukan teori Copernicus bahwa bumi dan planet-planet berputar dalam orbit mengelilingi matahari dan menolak teori Ptolemaeus bahwa matahari dan planet-planet berputar mengelilingi bumi.

Teori Galileo bertentangan dengan otoritas ilmiah Aristoteles yang mendukung astronomi Ptolemaeus yang telah diterima secara luas di Eropa sejak abad ke-12. Teori Galileo juga bertentangan dengan otoritas kitab suci yang meyakini bumi sebagai pusat alam semesta. Anakku, demikianlah sejarah Hypatia, sejarah yang memberikan gambaran kepada kita tentang ketegangan sains dan agama yang mengakibatkan dikotomi antara sains dan agama. Hingga saat ini pun masih banyak orang yang beranggapan bahwa sains dan agama adalah dua entitas yang berbeda dan tidak mungkin untuk dipertemukan. Kedua kelompok tersebut seolah tak pernah berhenti untuk saling klaim bahwa merekalah yang berhak menentukan kehidupan. Keduanya memiliki wilayah masing-masing, terpisah antara satu dan lainnya padahal keduanya adalah penting dalam sejarah kehidupan umat manusia. 

Oleh karena itu semoga engkau bisa mengambil hikmah dari kisah yang baru saja ayah ceritakan. Agama dan sains tidak mesti saling meniadakan, saling dihadap-hadapkan dan dipertentangkan secara diametral, karena bagiku, dalam hubungan dialogis, sains dan agama mempunyai persinggungan yang bisa didialogkan bahkan diintegrasikan satu sama lain. Model integrasi sebagai tahapan lanjut dari model dialog inilah relasi ideal antara sains dan agama. Kedua elemen ini harus kita yakini sebagai sarana untuk menemukan anugerah dan keagungan ALLAH yang telah menciptakan alam semesta raya.

Motivasi teologis semacam ini tentu berdasarkan pada suatu keyakinan bahwa agama kita, Islam, sangat menganjurkan penggunaan akal. Teori Hypatia tentang peredaran planet-planet mengelilingi matahari bertentangan dengan pandangan dan keyakinan tokoh tokoh agama kristen yang memiliki pandangan sama dengan Aristoteles dan Ptolomeus.

Mungkin engkau kelak akan membaca sejarah keberhasilan sejumlah ilmuwan besar Islam yang kita kagumi seperti Ibnu_Sina, Ibnu_Rusyd, Al-Farabi , al-Khaw1rizm, Aljabar, Al-Kindi, Al-Biruni, Abu_Musa_Jabir_bin_Hayyan, Al-Tamimi, Ptolemy, Al-Sijzi, Hunayn_ibn_Ishaq dan Ibn_al-Jazzar. yang terkenal tidak hanya pada bidang agama tetapi juga mencakup bidang-bidang pengetahuan seperti ilmu kedokteran, ilmu astronomi, matametika dan ilmu umum lainnya. Anakku, masih tentang Hypatia, menyoal kisah yang aku ceritakan berdasarkan kisah yang selama ini berkembang, kita perlu kritis membaca sejarah. Hypatia harus kita dudukan sebagai representasi kisah yang kompleks agar kita tidak terjebak pada penilaian sempit yang cenderung menyederhanakan persoalan, agar kita tidak menjadi manusia yang senang berucap dan bertindak membabi buta.

Pendekatan semacam itu tentu harus kita berlakukan pada saat kita menyimak ragam peristiwa yang terjadi termasuk persoalan di internal agama kita, Islam, yang telah mengajarkan kepada kita semua tentang pentingnya keluasan ilmu dan kebijaksanaan, tentang pentingnya memiliki dan memelihara kerendahan hati, kejernihan hati dan pikiran dalam memandang persoalan. Anakku, kecaman dan hukuman yang dialamatkan kepada Hypatia bukan sekadar pemikirannya yang bersebrangan dengan doktrin gereja juga bukan hanya konflik sains dan agama yang ditandai dengan perbedaan tafsir teks suci dan pemikiran filsafat. Hypatia adalah cerminan soal hegemoni dan relasi kekuasaan yang tidak seimbang terkait relasi mayoritas-minoritas. Jelas adanya, ada kontestasi simbolik yang terjadi disana, ada tendensi politik kekuasaan yang mengemuka di sana.

Historis kisah Hypatia yang terjadi seiring munculnya Kristen secara dominan setelah Raja Konstantinus Agung melegalisir agama kristen sebagai agama negara di seluruh kekaisaran Romawi sekitar tahun 313. Engkau juga bisa lihat bagaimana sosok Cyrill, sebagai pemimpin agama, tidak lagi berbicara tentang Tuhan melainkan berbicara “atas nama Tuhan”. Ketika peng”aku”an absolut ini berkelindan dengan tangan kekuasaan despotik, maka kita menemukan perselingkuhan agama dengan kekuasaan yang sangat berbahaya telah berhasil memberangus pemikiran filsafat yang dipandang sebagai ideologi kaum pagan, menghukum Hypatia, memberangus kaum pagan dan membakar tempat persembunyian para penganut paganisme yakni perpustakaan Alexandria yang berisi koleksi berbagai pengetahuan yang seharusnya dipelihara bukan dibumihanguskan. Anakku, padahal ayah pun yakin, model pemimpin semacam itu bukan yang dikehendaki oleh ajaran Kristen yang aku dengar sering menyuarakan cinta-kasih. anakku

Kisah Hypatia dan Galileo sebetulnya hanya dua peristiwa dari berbagai peristiwa lainnya terkait pertentangan keyakinan dan pandangan serta relasi agama dan kekuasaan yang terjadi di masa lalu dan akhir-akhir ini. Anakku, di era dinasti Abbasiyah, peristiwa serupa terjadi dengan kisah yang berbeda ketika kemarahan luar biasa dan demonstrasi besar-besaran berlangsung di mana-mana, di seluruh negeri. Puluhan otoritas agama menghimpun tandatangan dan berebut membubuhkannya, menuntut kematian seorang sufi bernama Husain Manshur al Hallaj yang lahir di perkampungan Tur, wilayah Baidha, Fars, Persia, 244 H/858.

Hallaj, keluarga dan para pengikutnya ditangkap dan dijebloskan di penjara. Peradilan terhadapnya kemudian digelar. Para jaksa menuduhnya dengan “telah melakukan kejahatan berlapis”. Secara politik dia dia dianggap agen gerakan Qaramit, salah satu sekte Syi’ah Ismaili, sayap garis keras dan brutal. Gerakan Politik di bawah pimpinan Hamdan al Qarmathi ini telah lama menentang kekuasaan dinasti Abbasiah dan berusaha menggulingkannya. Mereka acap melakukan pemberontakan di mana-mana. Secara agama al Hallaj dituduh tukang sihir dan zindiq (Atheis). Pembelaan yang cerdas dan jujur tak mampu melawan tekanan masa emosional dan represi politik pencitraan.

Pengadilan akhirnya menjatuhkan vonis mati yang ditandatangani oleh Khalifah Al Muqtadir Billah, Khalifah Dinasti Abbasiyah ke-18 yang dikenal sebagai pemimpin termuda yang memimpin sebuah kerajaan besar. Al Hallaj tak gentar dengan putusan ini. Pada tanggal 27 Maret 922 eksekusi mati dilaksanakan di hadapan ribuan pasang mata merah yang terus meradang dan tak henti berteriak histeris. Yel-yel Allah Akbar, Allah Akbar menggelegar. Anakku, ada peristiwa lain yang juga lebih tragis dan mengharukan yang dilakukan atas nama pemaksaan faham dan keyakinan oleh kelompok Wahabi yang didirikan oleh Muhammad ibnu Abdul Wahab yang lahir di Uyainah, Najd, Saudi Arabia pada tahun 1703 dan berkolaborasi dengan Dinasti Saud yang berkuasa di Arab Saudi hari ini. Peristiwa ini aku baca dari sebuah buku yang merupakan kajian ilmiah karangan Syeikh Idahram.

Pada tahun 1746, mereka tercatat dalam sejarah, telah memploklamirkan Jihad terhadap siapapun yang mempunyai pemahaman tauhid berbeda dari mereka dengan mengampanyekan tuduhan Syirk, murtad dan kafir pada siapapun yang berbeda faham. Mereka menghancurkan kawasan pekuburan di Ma`la termasuk kubah Sayyidina Ali bin Abi Tholib, bekas rumah Rasulullah. Mereka juga telah membakar buku-buku yang terdapat di perpustakaan Maktabah Arabiyah di Mekkah yang sangat bernilai historis bagi umat Islam termasuk hasil diktean Rasulullah kepada para sahabatnya. Anakku, demikianlah kisah sejarah yang aku bisa ceritakan hari ini. Maafkan ayah karena telah berpanjang lebar menceritakannya bahkan tidak hanya soal Hypatia. Aku sengaja melakukannya agar kita terus tersadarkan bahwa peristiwa penaklukan, pemaksaan kehendak dan nalar kekerasan itu ada pada semua bangsa, terjadi pada banyak penganut agama. Ini penting kita jadikan pelajaran berharga agar kita terjauh dari pengingkaran pada ajaran agama kita yang nyata nyata mengajarkan cinta, agar kita tidak melakukan pengingkaran pada fitrah kemanusiaan kita, agar kita menjalani kehidupan kita sebagai manusia berakal dan berhati nurani, agar nalar kemanusiaan kita tetap hidup sehingga kita selalu mau dan bisa menghargai, menghormati dan merasakan nasib yang sama dengan manusia yang lainnya. Anaku diakhir namamu ayah berinama Mumtazah yang mempunyai arti orang yang diberikan kecerdasan sehingga mempunyai pandangan yang istimewa. Berilmu namun bijaksana dalam bersikap dan berucap. Ayah doakan jika kelak nanti ngkau bisa mengarungi samudra ilmu, menggali renik sejarah agar ngkau bisa membuka cakrawala dunia dengan kesalehan. Anakku, hari telah sore, burung-burungpun telah kembali kesarangnya dan saatnya ngkau kembali ke pelukan ibumu. Hypatia Mumtazah. Rabu 05 Maret 2014.

~ Penulis adalah seorang guru ngaji yang suka mendongeng, pecinta sastra dan peneliti di Institute for Education Culture & Information~

Minggu, 31 Juli 2011

MARHABAN YA RAMADHAN

Selamat Datang Dalam Penerbangan Ramadhan Air dengan Nomor 1432 H, dgn Tujuan Idul Fitri, kita akan terbang slama 30 Hari diatas Permukaan Haus & Lapar. Pmumpang pesawat diharapkan menggunakan sabuk Iman, Mnegakkan Kursih Puasa & Shalat, Penerbangan ini Bebas Maksiat
Saya "SANDI GUNAWAN" Kapten Pesawat & "Keluarga" Awak kabin mngucapkan
SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1432 H MOHON MAAF LAHIR BATIN.

Rabu, 13 Juli 2011

Graziiieee INTER


Menjadi penggemar INTERNAZZINALLE MILANO FOOTBALL CLUB merupakan suatu kebanggaan bagi, ada rasa puas dalam diri rasa ketenangan tentram dlam jiwa ku, meski banyak orang mencela, menghina dan menghujat tapi semua itu tak pernah membuat aku patah arang menjadi Fans sejati "INTER".
Banyak hal yang aku pelajari dari menjadi Fans INTER, dari arti Persahabatan, kekeluargaan, kekompakan dan banyak lagi yang aku dapatkan, satu hal yang pasti aku seperti mendapatkan keluarga baru... ya keluarga Besar INTERNAZZIONALLE.
Setiap aku mendenger "Pazza Inter Amala" selalu membuat aku bersemangat melaksanakan aktivitas dan rutinitas, tak jarang ketika aku kehilangat semangat lantunan lagu "Pazza Inter Amala" yg di kumandangkan oleh Punggawa Inter seolah-olah selulu menyemangati ku "Sprito, sprito"...
"La Beneamata" 'yang tersayang siBiru Hitam' akan selalu ada dalam tiap detik nadiku....


Fora INTERNAZZIONALLE
La Beneamata I Nerazzurri
La Grande IL Biscione
Bravo INTERISTI

Minggu, 26 Desember 2010

GARUDA

Terbang tinggi lah wahai GARUDA
Kepak Sayap mu
Terjang Semua Lawan mu
Meski aral melintang

"INI KANDANG KITA"

Ku Yakin Restu Bumi
Tak akan Hilang Sampai Kau
Mengangkat Kembali Kepala GARUDA

Kibarkan SANG SAKA MERAH PUTIH DIBUMI PERTIWI
MERDEKA

Sabtu, 03 Oktober 2009

Marga Bukan Administrasi Pemerintah Masyarakat Rejang

Mengenai istilah marga dalam masyarakat Rejang, sebenarnya bukan asli dari suku Rejang melainkan dibawa dan diterapkan oleh Asisten Residen Belanda di Keresidenan Palembang, J Waland. J Waland membawa konsep ke-marga-an itu dari Palembang ke Bengkulu tahun 1861. (mungkin untuk lebih pasnya silakan baca Adatrectbundel XXVII hal 484-6.)
Di dalam IGOB (Inlandsch Gemeente OrdonantieBuitengewesten) tahun 1928 Belanda secara resmi menerap system pemerintahan yang diberi nama Marga. Sedangkan pengaturan system pemerintah di Lampung baru diatur pada tahun 1929. seperti termuat dalam Staatblad 1929 N0 362. Waktu itu Lampung dijadikan satu Afdeling yang dipimpin seorang Residen.

Satu wilayah Afdeling terbagi dalam 5 (lima) onder afdeling masing-masing dikepalai oleh seorang kontolir yang dijabat oleh orang Belanda. Sedangkan system marga di Bengkulu—khususnya pada masyarakat Rejang diterapkan pada tahun 1861 yang dibawa oleh J Waland dari Palembang. Dengan demikian, penerapan pemerintah marga di Bengkulu lebih tua dari di Lampung.
Suku Rejang dikenal mudah penerima pendatang dalam pergaulan sehariu-hari. Namun, di balik penerimaan tersebut. Suku Rejang (Orang Rejang) sering melupakan identitas mereka, karena mudah percaya dengan pendatang. Sebagai satu dari 18 lingkaran suku bangsa terbesar di Indonesia, suku bangsa Rejang 100% menganut agama Islam. Mata pencaharian utama adalah dari sektor pertanian.
Marga atau Mego yang merupakan pola atau sistem administrasi pemerintahan di zaman Hindia Belanda. Bukan asli dari sukubangsa Rejang. Melainkan diimport dari Palembang oleh J Waland, tujuannya untuk kepentingan penjajahan pihak Belanda. Walau kemudian sistem marga itu sangat dikenal oleh masyarakat Rejang, tapi pada akhirnya sistem itu dihapus.

Definisi Marga
Marga adalah komunitas masyarakat yang mendiami beberapa dusun (sekarang, desa) yang merupakan pola atau system administrasi pemerintahan yang dikepalai oleh seorang Pasirah (pesirah, pen). Kalau di Lampung, Marga terdiri beberapa Mego dan sebaliknya demikian. Namun, di Lampung setelah system pemerintahan Marga dihapus dan diganti Negeri. Dan, di Bengkulu langsung masuk ke system tata pemerintahan Indonesia.
Marga juga bias diartikan sebagai nama nama keluarga dari turun temurun yang mengingatkan generasi berikutnya akan nenek moyang mereka. Itu, biasa digunakan di daerah Batak, orang China, Padang dan daerah lainnya. Artinya, marga itu dikaitkan dengan bagian nama sebagai pertanda dari keluarga mana seseorang itu berasal. Marga lazim ada di banyak kebudayaan di dunia.
Nama marga pada kebudayaan Barat dan kebudayaan-kebudayaan yang terpengaruh budaya Barat (yang lebih menonjolkan individu) umumnya terletak di belakang, oleh karena itu disebut pula nama belakang. Kebalikannya, budaya Tionghoa dan Asia Timur lainnya menaruh nama marga di depan karena yang ditonjolkan adalah keluarga, individu dinomorduakan setelah keluarga.
Ada pula kebudayaan-kebudayaan yang dulunya tidak menggunakan marga, misalnya suku Jawa di Indonesia, meski saat ini banyak yang sudah mengadopsi nama keluarga. Dalam sistematika biologis, marga digunakan bergantian untuk takson 'genus'. Dalam hal itu dapat kita lihat di Lampung yang mengenal marga-marga yang mulanya bersifat geneologis-territorial. Tapi, tahun 1928, pemerintah Belanda menetapkan perubahan marga-marga geneologi-teritorial menjadi marga-marga teritorial-genealogis, dengan penentuan batas-batas daerah masing-masing.
Setiap marga dipimpin oleh seorang kepala marga atas dasar pemilihan oleh dan dari punyimbang-punyimbang yang bersangkutan. Demikian pula, kepala-kepala kampung ditetapkan berdasarkan hasil pemilihan oleh dan dari para punyimbang.

Di seluruh keresidenan Lampung, terdapat marga-marga teritorial sebagai berikut:
No. Nama Marga Kecamatan sekarang Beradat Berbahasa(Dialek)

1. Melinting Labuhan Maringgai Peminggir Melinting A (api)
2. Jabung Jabung idem idem
3. Sekampung idem idem idem
4. Ratu Dataran Ratu Peminggir Darah Putih idem
5. Dataran idem idem idem
6. Pesisir Kalianda idem idem
7. Rajabasa idem idem idem
8. Ketibung Way Ketibung idem idem
9. Telukbetung Telukbetung Peminggir Teluk idem
10. Sabu Mananga Padangcermin idem idem
11. Ratai idem idem idem
12. Punduh idem idem idem
13. Pedada idem idem idem
14. Badak Cukuhbalak Peminggir Pemanggilan (Semaka) idem
15. Putih Doh idem idem idem
16. Limau Doh idem idem idem
17. Kelumbayan idem idem idem
18. Pertiwi idem idem idem
19. Limau Talangpadang idem idem
20. Gunungalip idem idem idem
21. Putih Kedondong idem idem
22. Beluguh Kotaagung idem idem
23. Benawang idem idem idem
24. Pematang Sawah idem idem idem
25. Ngarip Semuong Wonosobo idem idem
26. Buay Nunyai (Abung) Kotabumi Pepadun O (nyou)
27. Buay Unyi Gunungsugih idem idem
28. Buay Subing Terbanggi idem idem
29. Buay Nuban Sukadana idem idem
30. Buay Beliyuk Terbanggi idem idem
31. BuayNyerupa Gunungsugih idem idem
32. Selagai Abung Barat idem idem
33. Anak Tuha Padangratu idem idem
34. Sukadana Sukadana idem idem
35. Subing Labuan Labuan Maringgai idem idem
36. Unyi Way Seputih Seputihbanyak idem idem
37. Gedongwani Sukadana idem idem
38. Buay Bolan Udik Karta (Tulangbawang Udik) Pepadun (Megou-pak) idem
39. Buay Bolan Menggala idem idem
40. Buay Tegamoan Tulangbawang Tengah idem idem
41. Buay Aji Tulangbawang Tengah idem idem
42. Buay Umpu Tulangbawang Tengah idem idem
43. Buay Pemuka Bangsa Raja Negeri Besar Pepadun A (api)
44. Buay Pemuka Pangeran Ilir Pakuonratu idem idem
45. Buay Pemuka Pangeran Udik Pakuonratu idem idem
46. Buay Pemuka Pangeran Tuha Belambangan Umpu idem idem
47. Buay Bahuga Bahuga (Bumiagung) idem idem
48. Buay Semenguk Belambangan Umpu idem idem
49. Buay Baradatu Baradatu idem idem
50. Bungamayang Negararatu Pepadun (Sungkai) idem
51. Balau Kedaton idem idem
52. Merak-Batin Natar idem idem
53. Pugung Pagelaran idem idem
54. Pubian (Nuat) Padangratu idem idem
55. Tegineneng Tegineneng idem idem
56. Way Semah Gedongtataan idem idem
57. Rebang Pugung Talangpadang Semende Sumatera Selatan
58. Rebang Kasui Kasui idem idem
59. Rebang Seputih Tanjungraya idem idem
60. Way Tube Bahuga Ogan idem
61. Mesuji Wiralaga Pegagan idem
62. Buay Belunguh Belalau Peminggir (Belalau) A (api)
63. Buay Kenyangan Batubrak idem idem
64. Kembahang Batubrak idem idem
65. Sukau Sukau idem idem
66. Liwa
Balik Bukit Liwa idem idem
67. Suoh Suoh idem idem
68. Way Sindi Karya Penggawa idem idem
69. La'ai Karya Penggawa idem idem
70. Bandar Karya Penggawa idem idem
71. Pedada Pesisir Tengah idem idem
72. Ulu Krui Pesisir Tengah idem idem
73. Pasar Krui Pesisir Tengah idem idem
74. Way Napal Pesisir Selatan idem idem
75. Tenumbang Pesisir Selatan idem idem
76. Ngambur Bengkunat idem idem
77. Ngaras Bengkunat idem idem
78. Bengkunat Bengkunat idem idem
79. Belimbing Bengkunat idem idem
80. Pugung Penengahan Pesisir Utara idem idem
81. Pugung Melaya Lemong idem idem
82. Pugung Tampak- Pesisir Utara idem idem
83. Pulau Pisang Pesisir Utara idem idem
84. Way Tenong Way Tenong Semendo Sumatera Selatan

Susunan marga-marga territorial yang berdasarkan keturunan kerabat tersebut, pada masa kekuasaan Jepang sampai masa kemerdekaan pada tahun 1952 dihapus dan dijadikan bentuk pemerintahan negeri. Sejak tahun 1970, nampak susunan negeri sebagai persiapan persiapan pemerintahan daerah tingkat III tidak lagi diaktifkan, sehingga sekarang kecamatan langsung mengurus pekon-pekon/kampung/desa sebagai bawahannya.

Dalam perkembangannya, suku bangsa Rejang atau Suku Rejang (boleh disebut dengan kata Orang Rejang) banyak melakukan reformasi pola pikir dari pola pikir agraris tradisional ke pola pikir pendidik formal. Masyarakat Rejang pada awalnya banyak mengirimkan putra-putrinya bersekolah ke daerah Sumatera Padang dengan tujuan Padang, Padang Panjang, Bukittinggi, Payakumbuh dan daerah lainnya.

Di samping itu banyak dari mereka bersekolah di Palembang, dan sangat sedikit melanjutkan pendidik ke Jawa. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Baru sekitar tahun 70-an kelanjutan sekolah orang-orang Rejang berkiblat ke Jawa, terutama Yogyakarta, Jakarta dan Bandung dan adapula yang menerobos ke Medan.

Akibat banyaknya putra-putri orang Rejang pergi merantau melanjutkan pendidikan di luar Bengkulu membawa konsekuensi logis terhadap pertambahan penduduk di Lebong, Rejang dan sekitarnya—di dalam wilayah provinsi Bengkulu. Pertambahan penduduknya lamban.

Dipelopori orang Rejang dari Kotadonok, Talangleak, Semelako dan Muara Aman yang banyak menjadi pejabat di luar daerah, jadi anggota TNI dan Polri. Akhirnya sekitar tahun 1980-an orang Rejang yang jadi anggota TNI dan Polri serta PNS semakin banyak dan bertebaran dari Aceh sampai Irian Jaya.

Bersatu la bersama saya

PAZZA INTER AMALAA dan Terjemahan Indonesia

Lo sai per un gol Kau tahu untuk satu tujuan io darei la vita….la mia vita Aku akan memberikan hidup saya ... hidup saya. Che in ...